NARASIDATA.COM - Di balik gemerlap panggung politik nasional dan ruang-ruang rapat strategis sektor keuangan, ada satu garis konsisten yang terus dijaga oleh Estiana Fithriana Dewi. Kedekatan pada denyut nadi ekonomi masyarakat bawah. Bagi tokoh ekonomi syariah sekaligus politisi perempuan asal Jawa Barat ini, jabatan bukanlah muara, melainkan alat tenun untuk merajut kesejahteraan yang inklusif.
Baru-baru ini, alumnus Universitas Padjadjaran (UNPAD) tersebut dipercaya mengemban amanah baru yang cukup berbobot. Ia didapuk sebagai Wakil Sekretaris Jenderal (Wasekjen) Pengurus Pusat Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) periode 1447–1452 H/ 2026 - 2031, mendampingi Ketua Umum Rosan Roeslani.
Namun bagi Estiana, amanah di sektor ekonomi syariah dan industri halal ini bukanlah teori di atas kertas. Ini adalah panggilan aksi.
"Ekonomi syariah bukan sekadar alternatif sistem keuangan, melainkan motor penggerak ekonomi kerakyatan yang mampu memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan umat dan penguatan kemandirian ekonomi nasional," ujar Estiana.
Ketajaman Estiana dalam melihat ekosistem finansial tidak tumbuh instan. Ia menempa instingnya sebagai bankir profesional di perbankan BUMN. Pengalaman empiris inilah yang kemudian membawanya dipercaya di Badan Supervisi Otoritas Jasa Keuangan (OJK), sebuah pos krusial untuk memastikan tata kelola keuangan negara berjalan sehat, transparan, dan akuntabel.
Namun, alih-alih nyaman di zona elit finansial, Estiana justru memilih melangkah ke tempat di mana angin laut bertiup kencang dan aroma amis garam menyengat. Sejak tahun 2012, ia mendedikasikan diri di bidang Hubungan Masyarakat (Humas) Dewan Pimpinan Pusat Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI).
Di HNSI, Estiana tidak sekadar menjabat. Ia turun tangan memperjuangkan program pemberdayaan ekonomi masyarakat pesisir. Baginya, nelayan dan pelaku UMKM perikanan budidaya harus "naik kelas" sebuah cita-cita yang hanya bisa diraih jika mereka memiliki akses finansial dan kapasitas SDM yang mumpuni.
Langkah kaki Estiana kemudian membawanya ke ranah kebijakan publik. Kini, sebagai Dewan Pakar Partai NasDem Jawa Barat dan alumni Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL Lemhannas), ia membawa perspektif teknokrat yang humanis ke panggung politik.
Baca Juga: Langkah Menpar Widiyanti Menjaga Nyala Pariwisata Indonesia
Saat maju sebagai Calon Legislatif DPR RI dari Dapil Jabar I (Kota Bandung dan Kota Cimahi), dua isu yang ia suarakan sangat membumi, ekonomi dan pendidikan. Ia menyadari betul bahwa kemandirian ekonomi warga Bandung dan Cimahi tidak akan terwujud tanpa mutu manusia yang siap bersaing.
Ia dengan vokal mendorong lahirnya kebijakan pendidikan link-and-match, sebuah konsep yang mengawinkan kurikulum sekolah dengan kebutuhan nyata industri. Baginya, ini adalah solusi konkret untuk memotong mata rantai pengangguran usia produktif yang kerap menjadi beban sosial di perkotaan.
Keluwesan Estiana dalam menjembatani berbagai sektor, mulai dari nelayan, bankir, hingga politisi, ternyata berakar dari masa mudanya. Kemampuan komunikasi dan kepemimpinan itu dibentuk sejak ia aktif di Mahasiswa Perhimpunan Hubungan Masyarakat (Perhumas) Bandung, bahkan di komunitas hobi seperti Peugeot Club Otomotif Bandung.
Kini, dengan portofolio yang kaya dari pengawasan regulasi di OJK, gerakan ekonomi syariah di MES, hingga advokasi kerakyatan di HNSI. Estiana Fithriana Dewi menunjukkan sebuah potret kepemimpinan kolaboratif perempuan modern. Ia melangkah bukan untuk meninggalkan masyarakat di belakang, melainkan untuk membawa sinergi nyata demi Indonesia yang lebih berdaya saing, adil dan sejahtera dari akar rumputnya. **
Artikel Terkait
Jejak Ardi Andono Menjaga Nafas Badak Jawa
Dari Senayan untuk Sumbar: Zigo Rolanda Kawal Infrastruktur dan Konektivitas Daerah
Tak Main-main, DPRD Limapuluh Kota Godok Perda Anti-LGBT dengan Sanksi Tegas