lifestyle

Jejak Ardi Andono Menjaga Nafas Badak Jawa

Rabu, 6 Mei 2026 | 15:53 WIB
Jejak Ardi Andono Menjaga Nafas Badak Jawa

NARASIDATA.COM- Dibalik lebatnya rimba Taman Nasional Ujung Kulon, ada kerja-kerja sunyi yang jarang terlihat publik, menghitung jejak, membaca arah angin, hingga menafsirkan tanda-tanda kehidupan satwa langka. Di sanalah Ardi Andono menapaki perannya sebagai Kepala Balai, menjaga salah satu spesies paling terancam di dunia, yakni badak jawa.

Sejak pertama kali memimpin kawasan konservasi tersebut pada Agustus 2023, Ardi tidak hanya mewarisi tanggung jawab administratif, tetapi juga beban ekologis yang tidak ringan. Ujung Kulon adalah benteng terakhir bagi badak jawa yang populasinya sangat terbatas dan rentan terhadap perburuan, penyakit, hingga perubahan lingkungan. Dalam konteks itu, kepemimpinan bukan sekadar soal kebijakan, melainkan keberanian mengambil keputusan di tengah ketidakpastian.

Pada Rabu, 6 Mei 2026, ia menyatakan arier terbentuk dari lapangan yang keras. Sebelum bertugas di Ujung Kulon, ia menjabat sebagai Kepala BKSDA Sumatra Barat, wilayah dengan dinamika konflik satwa dan manusia yang kompleks. Di sana, ia terlibat langsung dalam penanganan perdagangan ilegal satwa dilindungi, termasuk kasus kulit harimau dan perambahan hutan. Ia juga mengawal kemunculan kembali gajah Sumatra di sejumlah wilayah, sebuah fenomena ekologis yang sempat hilang selama puluhan tahun.

Baca Juga: David Taster dari Kursi Dewan ke Arah Masa Depan di Solok Selatan

Pengalaman itu membentuk pendekatan Ardi yang memadukan ketegasan hukum dengan pemahaman ekologi. Di Ujung Kulon, pendekatan tersebut diterjemahkan dalam operasi penegakan hukum yang lebih sistematis. Hasilnya, di bawah kepemimpinannya, taman nasional ini meraih Asia Environmental Enforcement Award 2024–2025 dari UN Environment Programme atas keberhasilan membongkar jaringan perburuan liar badak jawa.

Namun bagi Ardi, konservasi tidak cukup hanya dengan patroli dan penindakan. Ia mendorong penggunaan teknologi sebagai “mata kedua” di hutan. Dengan memanfaatkan sistem penginderaan jauh dan kecerdasan buatan, timnya mampu memantau pergerakan satwa secara lebih presisi, mengurangi risiko sekaligus meningkatkan efektivitas perlindungan.

Langkah lain yang cukup strategis adalah program translokasi badak jawa ke kawasan JRSCA (Javan Rhino Study and Conservation Area). Program ini dirancang untuk membuka ruang berkembang biak yang lebih aman dan memperkecil risiko kepunahan akibat konsentrasi populasi di satu titik. Di sinilah konservasi bergerak dari sekadar menjaga, menjadi upaya aktif menyelamatkan masa depan spesies.

Di sisi lain, Ardi juga menekankan pentingnya kolaborasi. Ia membangun sinergi antara pemerintah, akademisi, komunitas, hingga sektor swasta dalam program pelepasliaran satwa seperti siamang dan harimau Sumatra. Pendekatan pentahelix ini menjadi fondasi bahwa konservasi bukan kerja satu institusi, melainkan gerakan bersama.

Dedikasinya mendapat pengakuan luas. Pada 2026, ia menerima Orangufriends Award dari Centre for Orangutan Protection atas kontribusinya dalam pelestarian badak jawa. Penghargaan lain juga datang dari pemerintah dan aparat keamanan atas kontribusinya dalam menjaga stabilitas kawasan konservasi.

Di luar lapangan, Ardi tetap menjaga pijakan akademiknya. Sebagai kandidat doktor di Universitas Gadjah Mada dan lulusan Wageningen University, ia aktif menulis dan berbagi pengalaman tentang manajemen konservasi adaptif, sebuah pendekatan yang semakin relevan di tengah tekanan perubahan iklim dan aktivitas manusia.

Pada akhirnya, kisah Ardi Andono bukan hanya tentang jabatan atau penghargaan. Ini adalah cerita tentang konsistensi seseorang yang memilih berada di garis depan perlindungan alam, di tempat di mana hasil kerja tidak selalu terlihat, tetapi dampaknya menentukan masa depan. ***

 

Tags

Terkini

Jejak Ardi Andono Menjaga Nafas Badak Jawa

Rabu, 6 Mei 2026 | 15:53 WIB

Battle Kuteks Under Rp10.000, Mana Paling Oke?

Jumat, 8 Agustus 2025 | 00:50 WIB