Banyak orang merasa tertekan untuk menghabiskan uang demi membeli barang-barang mewah atau mengikuti tren, meskipun mereka tidak mampu secara finansial.
Ini tidak hanya menciptakan kesenjangan finansial, tetapi juga berkontribusi pada masalah identitas.
Hubungan Boros dengan Masalah Kesehatan Mental
Baca Juga: Pesan Prabowo ke Pelajar soal MBG: Hormati Orangtua dan Guru, Tak Perlu Berterima Kasih pada Prabowo
Sebuah artikel di The Guardian menyebutkan bahwa konsumsi yang didorong oleh ekspektasi sosial bisa menciptakan perasaan ketidakpuasan yang terus-menerus, dan dalam banyak kasus, perasaan ini bisa berkembang menjadi depresi.
Perasaan bahwa diri mereka tidak cukup baik atau tidak memenuhi standar sosial dapat menyebabkan masalah kesehatan mental lebih lanjut.
Sementara itu, pengeluaran yang berlebihan juga dapat merusak hubungan interpersonal.
Baca Juga: Prabowo Upayakan Akhir 2025 Makan Bergizi Merata di Indonesia: Mohon Maaf yang Saat Ini Belum Terima
Ketika seseorang berbohong atau menyembunyikan pengeluarannya dari pasangan atau keluarga, hal ini dapat merusak kepercayaan dan menciptakan ketegangan dalam hubungan.
Banyak orang yang cemas tentang bagaimana orang lain akan menilai kebiasaan belanja mereka, dan ini sering menyebabkan perasaan malu.
Ketegangan emosional ini bisa memperburuk perasaan cemas dan bahkan menyebabkan isolasi sosial, yang merupakan faktor risiko bagi gangguan mental.
Penelitian yang diterbitkan di The Journal of Consumer Research menemukan bahwa orang-orang yang terjebak dalam kebiasaan konsumtif sering kali mengandalkan belanja impulsif sebagai cara untuk mengatasi stres atau perasaan negatif, yang hanya memberikan kepuasan sementara, tetapi memperburuk kondisi emosional mereka dalam jangka panjang.
Selain dampak langsung pada kesehatan mental, boros juga dapat memperburuk masalah keuangan seseorang, menciptakan lingkaran setan yang sulit diputus.
Semakin banyak utang yang terakumulasi, semakin besar kecemasan yang dirasakan, yang semakin memperburuk kondisi mental individu.