Usai Tekan ByteDance Tuk Lepas Aset TikTok di AS, Donald Trump Bakal Nego dengan China Pekan Depan

Photo Author
Redaksi, Narasi Data
- Minggu, 6 Juli 2025 | 15:00 WIB
Presiden AS, Donald Trump. (Instagram.com/@realdonaldtrump)
Presiden AS, Donald Trump. (Instagram.com/@realdonaldtrump)

NARASIDATA.COM - Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump menyatakan pihaknya akan memulai pembicaraan dengan China pada awal pekan depan.

Dalam pernyataannya di pesawat kepresidenan Air Force One pada Jumat, 4 Juli 2025 waktu AS, Trump menyebut hal itu untuk mencapai kesepakatan terkait aset bisnis platform video pendek milik ByteDance, TikTok

Trump menilai, Washington sudah hampir mencapai titik temu dalam rencana penjualan TikTok yang saat ini dimiliki perusahaan teknologi asal China itu.

Baca Juga: Saat Menteri Maman Datangi KPK Tuk Bela Istrinya yang Diduga Plesiran ke Istanbul-Milan Pakai Uang Negara

"Saya kira kami akan mulai berbicara dengan China pada pekan depan, hari Senin atau Selasa," ujar Trump sebagaimana dilansir dari Reuters, pada Sabtu, 5 Juli 2025. 

"Mungkin dengan Presiden Xi atau salah satu wakilnya, tapi kami akan memiliki kesepakatan," imbuhnya.

Sebelumnya, AS memang telah menetapkan tenggat waktu hingga 17 September 2025 bagi ByteDance untuk melepaskan aset TikTok di Amerika Serikat. 

Baca Juga: KPK Telusuri Skema Fee Proyek di MPR, Eks Sekjen Diduga Terima Gratifikasi Rp17 Milia

Tekanan tersebut muncul di tengah kekhawatiran Trump terkait keamanan data pengguna AS dan ketegangan perdagangan antara kedua negara.

Menilik pada awal tahun 2025 lalu, AS diketahui sempat menyiapkan skema pembentukan perusahaan baru berbasis di Amerika Serikat untuk menjalankan TikTok. 

Perihal itu, Trump mengatakan pembentukan perusahaan TikTok versi Amerika kemungkinan tetap memerlukan restu dari Beijing. 

Baca Juga: Usai Sesumbar Hancurkan Fasilitas Nuklir Iran, Trump Ditantang Lihat Efek Bom Atom di Hiroshima

"Saya tidak yakin, tapi saya rasa begitu. Presiden Xi dan saya punya hubungan baik. Saya pikir ini akan baik untuk mereka. Kesepakatan ini baik untuk China, juga baik untuk kami," tukasnya.

Usut punya usut, perusahaan tersebut disinyalir akan dikuasai dan dioperasikan oleh investor AS, namun rencana itu tertunda setelah China secara resmi menolak untuk menyetujuinya. 

Halaman:

Editor: Ade Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X