news

Update Nego Dagang RI ke AS: Airlangga Klaim Tak Bahas 'Pasar Barang Bajakan' usai Mangga Dua Disorot Trump

Sabtu, 26 April 2025 | 19:10 WIB
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump (kiri) dan Menko Perekonomian RI, Airlangga Hartarto (kanan). (Instagram.com / @potus - @airlanggahartarto.official)

NARASIDATA.COM - Menko Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan isu kawasan Mangga Dua sebagai 'pasar barang bajakan' yang disorot Amerika Serikat (AS) dalam laporan perdagangan terbarunya, tidak masuk dalam agenda negosiasi dagang bilateral RI terhadap AS.

Sebelumnya, berdasarkan kebijakan Presiden AS, Donald Trump dalam National Trade Estimate Report on Foreign Trade Barriers 2025, menyoroti keberadaan Pasar Mangga Dua di Jakarta sebagai pusat peredaran barang bajakan dan palsu.

AS juga menempatkan Pasar Mangga Dua dalam daftar pasar dengan pelanggaran kekayaan intelektual serius. 

Baca Juga: Kuasa Hukum Revelino Bongkar Sosok Suami Lisa Mariana Sekarang: Mantan Karyawan Klien Kami

Terkini, Airlangga mengungkap isu tersebut tidak menjadi bagian dari diskusi teknis yang dilakukan pemerintah Indonesia dengan para pejabat tinggi AS.

Menko Perekonomian RI juga menyebut pembahasan dalam agenda negosiasi dagang bilateral RI terhadap AS itu tidak ada detail intinya.

"Tidak ada pembahasan soal Mangga Dua, jadi ini tidak ada detail inti. Jadi ini pertanyaan yang ramai, ini variasinya banyak kayak bahan bimbel," tutur Airlangga dalam konferensi pers secara virtual yang tayang pada Jumat, 25 April 2025.

Baca Juga: Bpjs Ketenagakerjaan beri jaminan kepada atlet Ju-jitsu

Airlangga menjelaskan, fokus utama negosiasi RI terhadap AS itu terkait penguatan hubungan dagang dan investasi, bukan pada isu sektoral yang tidak menjadi prioritas strategis.

Menko Perekonomian RI menyebut pemerintah lebih memusatkan perhatian pada pengembangan sektor industri nasional dengan mendorong inovasi teknologi.

Selain itu, perhatian pembahasan negosiasi juga terkait energi ramah lingkungan, penguatan SDM, dan akses pasar internasional.

Baca Juga: Soal Tuntutan Gibran Mundur dari Kursi Wapres, Wiranto Blak-blakan Prabowo Takut Warga RI Ikut Gaduh

Airlangga menilai, hal itu karena RI yang baru masuk BRICS yang dinilai sebagai akses pasar yang baru.

"Ini perubahan yang cukup mendasar. Tentu Indonesia baru masuk BRICS dan ini jadi akses pasar baru," tutur Airlangga.

Halaman:

Tags

Terkini