news

Soal Prabowo Diundang Presiden Rusia Vladimir Putin, Maruarar Sirait Ingatkan Prinsip Seribu Teman Itu Sedikit

Selasa, 17 Juni 2025 | 09:11 WIB
Presiden RI, Prabowo Subianto (kiri) dan Menteri PKP, Maruarar Sirait (kanan). (Instagram.com/@maruararsirait)

NARASIDATA.COM - Presiden RI, Prabowo Subianto akan memenuhi undangan Presiden Rusia, Vladimir Putin untuk berkunjung ke negara Rusia, pada 18-20 Juni 2025 mendatang. 

Dalam kunjungannya di Rusia, Prabowo akan menghadiri forum ekonomi bergengsi Saint Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2025.

Terkait hal itu, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menilai undangan Putin itu menunjukkan Prabowo dipercaya oleh dunia internasional.

Baca Juga: Prabowo Bertolak ke Singapura Bahas Kerja Sama Strategis dengan Presiden dan PM Negeri Singa

"Itu menunjukkan kewibawaan dan kepercayaan dunia internasional terhadap Pak Prabowo dan juga kepercayaan dalam negeri yang sangat tinggi," ujar Maruarar dalam pernyataannya kepada wartawan, pada Senin, 16 Juni 2025.

Berkaca dari hal itu, Maruarar menyoroti gaya politik Prabowo yang dinilai memiliki prinsip 'seribu teman terlalu sedikit'.

"Politik Pak Prabowo itu kan satu musuh terlalu banyak, seribu teman terlalu sedikit, karena itu Pak Prabowo banyak merangkul tokoh-tokoh nasional seperti Pak Jokowi, Pak SBY," ujarnya.

Baca Juga: Kuasa Hukum Jokowi Tolak Tunjukkan Ijazah ke Publik, Sebut yang Menuduh Harus Membuktikan

Menilik ke belakang, Prabowo memang pernah menekankan prinsip netralitas yang dirinya pegang sejak awal kampanye sebagai Presiden RI.

Kala itu, Presiden RI menilai filosofi yang dipegangnya sederhana namun dinilai sulit.

"Seribu teman terlalu sedikit. Satu musuh terlalu banyak. Kalimat ini sangat sederhana tapi sulit untuk diwujudkan," ucap Prabowo di ADF 2025 di Antalya, Turki, pada April 2025 lalu.

Baca Juga: Setelah Ijazah Jokowi Terbukti Asli, Kini Berkembang Tuduhan Skripsi dan KKN Palsu

Prabowo menilai, filosofi tersebut juga menjadi fondasi suksesnya perdamaian di kawasan Asia Tenggara melalui pembentukan ASEAN. 

Orang nomor 1 di Indonesia itu kemudian menyebut, meski ada perbedaan, ASEAN cenderung memilih berdialog daripada bertikai.

Halaman:

Tags

Terkini