Menurut Yoshida, rumahnya tidak berada di area dataran tinggi. Itu berarti, jika ia sedang berada di rumah saat alarm berbunyi, maka ia pasti harus lari ke tempat yang lebih aman.
"Saya bersyukur tempat evakuasi ini dekat. Kalau tidak, saya akan sangat panik," ujarnya dengan nada lega.
Sebelumnya diketahui, gelombang tsunami yang tercatat memang tidak terlalu besar, berkisar antara 20 hingga 50 sentimeter. Kendati demikian, Badan Meteorologi Jepang (JMA) tetap mengeluarkan peringatan serius.
Mereka menyebut gelombang susulan bisa lebih besar dari yang pertama, sehingga warga diminta tetap bertahan di tempat evakuasi hingga peringatan resmi dicabut.
Pemerintah Jepang juga bertindak cepat. Perdana Menteri Shigeru Ishiba memerintahkan seluruh otoritas terkait untuk segera menyampaikan informasi akurat dan mendukung warga di lokasi terdampak.
"Saya meminta seluruh warga di area terdampak untuk segera mengungsi ke dataran tinggi atau lokasi yang aman," kata Ishiba dalam pernyataan resminya, dikutip dari artikel yang sama.
Baca Juga: Polisi: Arya Daru Dua Kali Coba Panjat Pagar Rooftop Gedung Kemlu Sebelum Ditemukan Tewas
JMA sempat mengeluarkan peringatan awal pada pukul 08.37 waktu setempat dan meningkatkan statusnya menjadi tsunami warning pada pukul 09.40. Beberapa titik di sepanjang pantai Pasifik, mulai dari Hokkaido hingga Ibaraki, juga melaporkan gelombang 20-40 sentimeter.
Di Prefektur Miyagi, tepatnya di wilayah Ishinomaki, gelombang mencapai 50 sentimeter. Meski relatif kecil, pengalaman menghadapi tsunami membuat warga Jepang tidak meremehkan risiko.***