Menurutnya, serapan anggaran yang lebih tinggi dari perkiraan memberi efek berganda bagi perekonomian.
“Tadi saya pikir penyerapannya rendah, tapi ternyata lebih bagus dari yang saya perkirakan. Dan programnya, multiplier effect-nya ke perekonomian memang cukup signifikan,” ujar Purbaya.
Purbaya lantas menegaskan tambahan dana bukan masalah besar selama pelaksanaan program terbukti efektif. Namun, keputusan akhir tetap menunggu evaluasi lapangan pada Oktober 2025.
Proyeksi Tahun Depan
Di lain pihak, Dadan optimistis tahun depan program MBG bisa berjalan lebih cepat dengan alokasi Rp335 triliun. Ia menargetkan sejak awal tahun 2026, serapan bisa mencapai Rp1,2 triliun per hari.
“Targetnya kita kejar tahun ini. Kalau Rp82,9 juta penerima manfaat bisa kita selesaikan tahun ini dengan 25.400 SPPG aglomerasi dan 6.000 SPPG terpencil,” katanya.
Baca Juga: Bakal Tarik Anggaran Tak Terserap untuk Keperluan Lain, Restu Prabowo Sudah Dikantongi Purbaya
Dengan proyeksi itu, pemerintah memastikan program MBG tidak hanya menjadi proyek anggaran besar, tetapi benar-benar memberi manfaat nyata bagi jutaan penerima.
Menjawab Isu Dapur Fiktif
Sorotan publik kian tajam ketika isu dapur fiktif dalam program MBG mencuat ke permukaan.
Secara terpisah, Dadan sempat menegaskan pihaknya sudah melakukan pembersihan data melalui sistem rollback pada portal Mitra.
“Begitu kita tutup ya portal Mitra, kemudian kita sisir seluruh yang dalam proses persiapan ini yang sudah lebih dari 50 hari tidak aktif, ternyata ada 6.018 yang kena rollback,” jelas Dadan di Kantor BGN, Jakarta, pada Senin, 22 September 2025.