"Yang membingungkan adalah mengapa suhu tetap setinggi ini," kata Nicolas yang dikutip dari Guardian.
Para ilmuwan sepakat bahwa pembakaran bahan bakar fosil menjadi pendorong utama pemanasan global jangka panjang.
Namun, variasi iklim alami juga memengaruhi fluktuasi suhu dari tahun ke tahun.
Baca Juga: Trump Tidak Ingin Mendeportasi Pangeran Harry dari AS dan Menyebut Meghan Adalah Sosok yang Buruk
Mereka masih terus mencari faktor tambahan yang menyebabkan pemanasan berkelanjutan ini.
Beberapa ilmuwan menduga bahwa faktor pemanasan global yang berkelanjutan disebabkan oleh kombinasi antara emisi bahan bakar fosil dan variabilitas iklim alami.
Selain itu, perubahan dalam penggunaan bahan bakar pengiriman yang lebih bersih—dengan mengurangi emisi sulfur—berpotensi mengurangi pembentukan awan reflektif yang biasanya memantulkan sinar matahari.
Baca Juga: Kerap Diabaikan Padahal Fatal, Ini Penyebab Sepele Terjadinya Angin Duduk Seperti Kang Gobang
Sebuah makalah ilmiah yang diterbitkan pada Desember juga menyelidiki kemungkinan bahwa berkurangnya awan rendah berperan dalam peningkatan suhu yang mencapai permukaan Bumi.
Namun, penelitian ini masih dalam tahap tinjauan sejawat.
"Hal ini masih menjadi bahan perdebatan," tambah Nicolas.
Peningkatan Suhu di Indonesia
Fenomena kenaikan suhu global juga terjadi di Indonesia pada Januari 2025.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat bahwa anomali suhu udara rata-rata pada Januari 2025 menunjukkan nilai positif sebesar 0,20°C.