news

Mengapa Gas Elpiji 3 Kg di Indonesia Berwarna Hijau? Ini Sejarah dan Asal-usulnya

Jumat, 14 Februari 2025 | 07:00 WIB
Sejarah Gas Elpiji 3 Kg di Indonesia berwarna hijau. (instagram.com/nursamani41)

Hak paten tersebut kemudian dibeli oleh Frank Phillips, pendiri perusahaan minyak ConocoPhillips. 

Namun, saat itu konsumsi gas elpiji masih terbatas dan belum berkembang secara signifikan.

Gas Elpiji sebagai Bahan Bakar

Baca Juga: Ada Pemotongan Anggaran BMKG 50 Persen, Dana Layanan Operasional dari Rp1,4 Triliun Turun Drastis Menjadi Rp372 Miliar

Penggunaan praktis gas elpiji pertama kali dicatat pada tahun 1918, ketika bahan bakar ini dimanfaatkan untuk lampu las dan obor pemotong logam. 

Produksi komersial baru benar-benar berkembang pada 1920-an.

Di Amerika Serikat, penjualan gas elpiji mencapai 223 ribu galon pada tahun 1922 dan meningkat menjadi 400 ribu galon dalam tiga tahun berikutnya. 

Baca Juga: Penghasilan di Dunia Hiburan Sudah Sangat Fantastis, Berapa Gaji dan Tunjangan Deddy Corbuzier Sebagai Stafsus Menhan?

Penggunaan gas elpiji semakin luas, termasuk sebagai bahan bakar motor untuk truk pada tahun 1928 serta untuk lemari es berbahan bakar gas elpiji. 

Pada tahun 1929, angka penjualan gas elpiji di AS melonjak hingga 10 juta galon.

Momentum gas elpiji semakin kuat, terutama setelah digunakan dalam Olimpiade 1932 di Los Angeles untuk memasak dan memanaskan air. 

Baca Juga: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia Mau Membuat Badan Pengawas Gas LPG 3 Kg, Pastikan Penyaluran Subsidi ke Pihak yang Tepat

Pada tahun 1934, industri propana-butana berhasil menjual 56 juta galon gas elpiji.

Gas Elpiji dan Kapal Udara Zeppelin

Permintaan gas elpiji juga meningkat seiring popularitas kapal udara yang digunakan untuk perjalanan antara Eropa dan Amerika Serikat. 

Halaman:

Tags

Terkini