“Kita masih hadir, tapi hilang semangat. Kita menyelesaikan tugas, tapi kehilangan rasa,” jelasnya.
Indrawan menggambarkan situasi itu seperti orang yang menggenggam batu di tanah yang sedang bergeser.
Banyak pekerja merasa aman dengan gaji, jabatan, dan fasilitas. Namun, rasa aman itu bisa runtuh sewaktu-waktu.
Baca Juga: Viral Foto Wamenaker Immanuel Ebenezer Dipasang Banyak Alat Medis, KPK Ungkap Kondisi Kesehatannya
“Yang lebih penting bukan pada apa yang kita pegang, tapi bagaimana kita berdiri. Apakah kita punya fondasi berdiri yang cukup kuat untuk bertahan, bahkan saat tanah di bawah kaki mulai goyah,” ungkap Indrawan.
Sebagai contoh, Indrawan menyoroti kejatuhan platform Evernote, aplikasi pencatat digital itu dulunya populer dan direkomendasikan banyak profesional, tetapi kini tersisih.
Kompetitornya, seperti Obsidian dan Google Keep, justru kini dinilai melesat karena lebih adaptif.
Baca Juga: Kemenhub Segera Hapus Jembatan Timbang, Siapkan Teknologi Mirip ETLE untuk Pantau Truk ODOL
CEO CIAS itu menilai, kasus Evernote bukan sekadar soal teknologi, melainkan tentang kecepatan membaca arah perubahan.
“Ini bukan hanya sekadar soal fitur, tapi soal kecepatan membaca arah dan keberanian untuk menyesuaikan diri,” terang Indrawan.
Indrawan lantas menyebut, hal yang sama berlaku bagi individu. Kecepatan beradaptasi lebih menentukan masa depan dibandingkan senioritas atau prestasi masa lalu.
Baca Juga: Kemenperin Tangani 10 Aduan Gangguan Suplai Gas HGBT dari Industri
“Kecepatan beradaptasi kini lebih menentukan masa depan, daripada senioritas atau prestasi masa lalu,” tukasnya.***