Kepergian AS akan meninggalkan celah besar dalam pendanaan WHO. Berdasarkan laporan Al Jazeera, Jumat 24 Januari 2025, kontribusi AS mencapai 18 persen dari total pendanaan WHO, yaitu sekitar 261 juta dolar AS (sekitar Rp4,2 triliun) untuk periode 2024-2025.
Angka ini merupakan kontribusi terbesar, disusul oleh China di posisi kedua dengan 181 juta dolar AS (sekitar Rp2,9 triliun).
Hilangnya dukungan finansial utama ini diperkirakan akan berdampak signifikan pada kemampuan WHO dalam menghadapi krisis kesehatan global.
Baca Juga: Prabowo Tabur Bunga di Makam Mahatma Gandhi: Pemimpin, Guru, dan Inspirasi
Alasan dan Kritik Trump terhadap WHO
Presiden Trump menuding WHO bias terhadap China dan tidak lagi independen.
Ia merasa AS terbebani secara tidak adil dalam pembiayaan WHO, mengingat kontribusi negara lain, seperti China, jauh lebih kecil.
"World Health (WHO) menipu kita, semua orang menipu Amerika Serikat. Ini tidak akan terjadi lagi," ujar Trump saat menandatangani perintah eksekutif. Ia juga mengkritik WHO atas kesalahan dalam menangani pandemi Covid-19.
Keputusan Trump untuk menarik AS dari WHO sebenarnya sudah pernah direncanakan sejak masa kepresidenannya pada 2020.
Namun, rencana tersebut gagal terwujud setelah Trump kalah dari Joe Biden dalam Pemilihan Presiden AS.
Kemungkinan Pembatalan Keputusan di Pengadilan
Langkah Trump untuk menarik AS dari WHO menuai kritik dari sejumlah pihak, termasuk pakar hukum kesehatan global.
Direktur O'Neill Institute for National and Global Health Law di Universitas Georgetown, Lawrence Gostin, menyebut bahwa keputusan tersebut memerlukan persetujuan Kongres.