Jarum Jam Kiamat Bergerak Menuju Tengah Malam, Berbagai Kerusuhan di Dunia Mendekati Ambang Kehancuran

Photo Author
Redaksi, Narasi Data
- Rabu, 29 Januari 2025 | 16:45 WIB
Ilustrasi jam kiamat yang menunjukkan dunia lebih dekat dengan kehancuran (Freepik)
Ilustrasi jam kiamat yang menunjukkan dunia lebih dekat dengan kehancuran (Freepik)

Faktor Utama yang Meningkatkan Risiko Global

Perubahan waktu pada Jam Kiamat ini mencerminkan meningkatnya ancaman dari berbagai faktor, termasuk ketegangan nuklir yang diakibatkan oleh invasi Rusia ke Ukraina, ketegangan yang masih memanas di Timur Tengah dan Asia, serta penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam konteks militer.

Selain itu, krisis iklim yang semakin memburuk juga menjadi pendorong utama keputusan ini.

Baca Juga: Bocah 10 Tahun di Nias Patah Tulang Diduga Dianiaya Keluarganya Sendiri dan Tidur di Kandang Ayam

Ancaman Nuklir: Invasi Rusia ke Ukraina

Daniel Holz, Ketua Dewan Sains dan Keamanan Bulletin of the Atomic Scientists, menjelaskan bahwa meskipun faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tahun ini, seperti risiko nuklir, perubahan iklim, dan penyalahgunaan teknologi biologi, bukanlah hal baru, upaya untuk mengatasinya justru belum cukup efektif dan bahkan semakin memburuk. 

Holz menegaskan bahwa ancaman nuklir tetap menjadi isu utama dalam keputusan ini.

Baca Juga: Dianggap Tidak Tulus dan Tidak Ada Hubungannya, Rakyat Wales Minta Pangeran William Tidak Gunakan Gelar Wales

"Faktor-faktor yang memengaruhi keputusan tahun ini—risiko nuklir, perubahan iklim, penyalahgunaan teknologi biologi, dan berbagai kemajuan teknologi lainnya seperti kecerdasan buatan—sebenarnya bukan hal baru. Namun, kita telah melihat bahwa upaya untuk mengatasinya masih belum cukup, bahkan dalam banyak kasus justru semakin memburuk," kata Holz, seperti yang dilansir oleh Reuters pada Rabu, 29 Januari 2025.

Ancaman nuklir terus menjadi perhatian utama, terutama terkait dengan invasi Rusia ke Ukraina yang dimulai pada 2022. 

Konflik ini telah menimbulkan ketegangan besar di Eropa dan memicu kekhawatiran tentang kemungkinan penggunaan senjata nuklir.

Baca Juga: Duduki Peringkat ke-4 Negara dengan Kualitas Udara Terburuk di Dunia, Thailand Tutup 350 Sekolah

"Perang di Ukraina terus menjadi sumber risiko nuklir yang besar. Konflik ini berpotensi berkembang menjadi perang nuklir, baik karena kesalahan perhitungan maupun keputusan yang gegabah," tambah Holz. 

Kekhawatiran ini semakin kuat setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengumumkan kebijakan baru pada November 2023 yang menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir. 

Doktrin baru ini memberi Putin lebih banyak alasan untuk menggunakan arsenal nuklir terbesar di dunia sebagai respons terhadap serangan konvensional dari Barat.

Halaman:

Editor: Ade Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X