Meski Warga Gaza Bersikeras Menolak Relokasi, Trump Tetap Ngotot: Mereka Bisa Hidup Tanpa Banyak Gangguan

Photo Author
Redaksi, Narasi Data
- Kamis, 30 Januari 2025 | 15:53 WIB
Potret warga Palestina saat diculik penduduk Israel sebelum gencatan senjata. (instagram.com/motaz_azaiza)
Potret warga Palestina saat diculik penduduk Israel sebelum gencatan senjata. (instagram.com/motaz_azaiza)

"Kami telah bertahan dari serangan, kehancuran, dan kehilangan. Namun, itu tidak akan membuat kami menyerah. Hidup di antara puing-puing adalah tantangan yang kami hadapi dengan tekad," ungkapnya.

Sejak Israel melancarkan serangan ke Gaza pada 7 Oktober 2023, lebih dari 46.700 warga Palestina tewas, termasuk 18.000 anak-anak. 

Hampir 1,9 juta orang mengungsi, sementara infrastruktur kota mengalami kerusakan parah.

Baca Juga: Bikin Gemas, Sederet Artis Indo Ini Bagi Momen Perayaan Imlek 2025: Salah Satunya Ada Mantan Istri Ruben Onsu

Data menunjukkan bahwa 92% jalan utama dan 84% fasilitas kesehatan hancur akibat serangan tersebut.

Mengingat Nakba dan Menolak Sejarah Terulang

Abu Suleiman menegaskan bahwa pengalaman pahit Nakba tahun 1948 masih membekas dalam ingatan warga Palestina. 

Baca Juga: AFC Akhirnya Atur Jadwal Indonesia vs Bahrain di GBK, Sebelumnya Takut Fans Asal Timur Tengah Itu Kena 'Serang' Suporter Garuda

Pada saat itu, sekitar 750.000 warga Palestina dipaksa meninggalkan rumah mereka setelah berdirinya Israel.

"Kami memahami betul apa yang terjadi saat itu. Mereka yang pergi tidak pernah kembali. Kami tidak akan membiarkan sejarah terulang kembali," tegas Abu Sulaeman di waktu yang bersamaan.

Banyak warga Gaza yang tetap memilih bertahan, meskipun ada peluang untuk meninggalkan wilayah tersebut. 

Baca Juga: Lionel Messi Bakal Pulang dari Miami ke Barcelona: Akankah Reuni dengan Neymar yang Baru 'Putus' Sama Al-Hilal?

Mereka menganggap mempertahankan tanah air sebagai bagian dari identitas dan perlawanan mereka.

Israa Mansour, seorang ibu empat anak yang kini tinggal di tenda darurat setelah rumahnya hancur, juga menolak gagasan relokasi. 

"Kami memilih bertahan bukan karena tidak punya pilihan, tetapi karena ini adalah rumah kami," ujarnya.

Halaman:

Editor: Ade Ahmad

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Terkini

X