Seperti yang diutarakan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengutip penjelasan Presiden Prabowo Subianto soal Indonesia yang resmi bergabung dengan blok ekonomi BRICS.
Airlangga menyebut Prabowo menjelaskan soal BRICS saat menjamu Perdana Menteri (PM) Jepang Shigeru Ishiba di Istana Bogor, Jawa Barat pada 11 Januari 2025 lalu.
Menurut Menko Ekonomi RI itu, Prabowo menekankan bahwa Indonesia bukan negara yang tergabung ke aliansi manapun.
Baca Juga: Sekolah Swasta ikut Terlibat dalam SPMB, Mendikdasmen: Hak Mereka Dijamin Undang Undang
Khusus dengan negara-negara yang tergabung di BRICS, Airlangga menilai Indonesia sudah menjadi mitra selama ini. Di lain sisi, kerja sama juga dilakukan dengan negara Barat.
"Jadi, tidak ada yang baru (itu bukan suatu hal yang baru) untuk semua negara BRICS. Mereka (selama ini) dekat dengan Indonesia," ucap Airlangga dalam Business Competitiveness Outlook 2025 di Raffles Hotel, Jakarta Selatan, Senin, 13 Januari 2025.
Di sisi lain, Rusia juga pernah mendorong sistem pembayaran baru sebagai alternatif BRICS terhadap dominasi dolar.
4. Ancaman Trump Terhadap Para Anggota BRICS
Dalam kesempatan berbeda, Trump mengatakan bahwa ia akan meminta komitmen dari blok tersebut bahwa mereka tidak akan menciptakan mata uang BRICS baru atau mendukung mata uang lain untuk menggantikan dolar.
"Mereka (anggota BRICS) akan menghadapi tarif 100 persen, dan harus bersiap-siap untuk mengucapkan selamat tinggal pada ekonomi AS yang luar biasa," tegas Trump sebagaimana dikutip dari Reuters dalam artikel yang tayang pada Jumat, 31 Januari 2025.
"Tidak ada peluang bagi BRICS untuk menggantikan Dolar AS dalam Perdagangan Internasional, atau di mana pun, dan setiap Negara yang mencoba harus menyapa Tarif, dan selamat tinggal Amerika!" tegasnya.
Blok BRICS yang salah satu anggotanya adalah Indonesia, telah berulang kali mengisyaratkan niatnya untuk meningkatkan kekuatan perdagangannya dan menciptakan mata uangnya sendiri sebagai alternatif dari dolar AS.
Oleh sebab itu, terdapat spekulasi yang muncul ke permukaan adanya mata-mata AS terhadap negara-negara anggota BRICS termasuk Indonesia untuk memantau perkembangan rencana tersebut.***