Fenomena Resesi Seks di Jepang
Masalah lain yang turut memengaruhi rendahnya angka kelahiran adalah fenomena "resesi seks."
Survei pada 2024 menunjukkan bahwa sekitar 60 persen pasangan menikah di Jepang tidak melakukan hubungan seksual secara rutin.
Baca Juga: Antusias Warga Sambut Prabowo Larut Malam di New Delhi: Tak Sangka Bapak Jabat Tangan Kita
Menurut jajak pendapat dari Raison d'Etre, 43,9 persen responden yang menikah jarang melakukan hubungan seksual, dan 24,3 persen hampir tidak pernah melakukannya.
Secara keseluruhan, sebanyak 68,2 persen pasangan menikah memiliki kehidupan seksual yang minim.
Survei ini dilakukan terhadap 4.000 responden yang berusia 20 hingga 40 tahun.
Baca Juga: Prabowo Ungkap Ratusan Prajurit TNI Ikut Serta di Parade HUT ke-76 India: Kontingen Kehormatan
Hasilnya menunjukkan bahwa 51 persen perempuan menikah di usia 20-an tidak berminat atau hampir tidak berminat berhubungan seksual. Untuk perempuan usia 30-an, angkanya mencapai 67,8 persen.
Sementara itu, 39,2 persen perempuan menikah di usia 30-an sama sekali tidak berhubungan seksual.
Di kalangan pria, 53,4 persen yang menikah di usia 20-an jarang berhubungan seksual, sementara pada usia 30-an angkanya meningkat menjadi 71,4 persen.
Baca Juga: Prabowo Berangkat ke New Delhi, Penuhi Undangan Hadiri Peringatan Republik India
Alasan utama yang diungkapkan para pasangan mencakup kelelahan akibat pekerjaan, kehilangan ketertarikan pada pasangan, dan persepsi bahwa hubungan seksual mengganggu rutinitas.
Langkah Pemerintah dalam Mengatasi Resesi Seks
Untuk mengatasi fenomena ini, pemerintah Jepang mengalokasikan dana sebesar US$25 miliar atau sekitar Rp370 triliun.